Bandung Memiliki 388 Aplikasi Pendukung Kinerja Pemkot

Bandung Memiliki 388 Aplikasi

Bandung Memiliki 388 Aplikasi – Dari sisi infrastruktur teknologi, Pemkot Bandung sudah siap memasuki tahap ketiga program smart city. Tercatat ada 388 aplikasi yang kini mendukung kinerja Pemkot Bandung.

Layaknya kota besar lainnya, Kota Bandung saat ini menghadapi berbagai masalah yang telah berkembang sangat kompleks, mulai dari masalah kemacetan, sampah, sampai masalah sosial seperti kesenjangan ekonomi dan ketertiban umum. Akibatnya, solusi-solusi konvensional seringkali tidak dapat mengejar kecepatan pertumbuhan kompleksitas masalah itu sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang kreatif dan inovatif untuk menyelesaikannya.

Berbagai kondisi tersebut memacu Kota Bandung untuk bertransformasi menjadi kota cerdas atau smart city dengan visi “Bandung Is A Lovable & Liveable Smart City”. Visi tersebut tentunya diselaraskan dengan visi Kota Bandung tahun 2014-2018, yakni Kota Bandung yang Unggul, Nyaman, dan Sejahtera, untuk menuju pencapaian visi pembangunan 2005-2025, Kota Bandung Bermartabat (Bandung, Dignified City).

Tiga Tahap Smart City

Dimulai sejak empat tahun lalu, pelaksanaan program smart city Kota Bandung ditempuh dalam tiga tahap. Tahap pertama atau tahap 1.0 adalah mendigitalisasikan semua proses untuk mengurangi penggunaan kertas di berbagai aktivitas layanan publik dan mengurangi pertemuan tatap muka langsung bila tidak diperlukan. Tahap dua, di mana saat ini Kota Bandung sedang bergerak, adalah smart city yang interaktif di mana warga dapat mengevaluasi kinerja Pemkot Bandung via Twitter, Instagram, atau Facebook.

Warga diharapkan juga bisa mengevaluasi camat dan lurah melalui situs web dan bisa mengadu secara daring, misalnya melalui sistem interaktif Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (Lapor!). Contoh lain adalah IURAN.id, sebuah situs web yang namanya merupakan singkatan dari Inovasi Urang Bandung. Situs web ini menjadi wadah yang menampung berbagai ide warga Bandung dalam bentuk tulisan maupun foto. Inilah Smart City 2.0 ketika interaksi warga diakomodasi oleh sistem. Sasaran di tahap terakhir, atau di tahap 3.0, adalah membangun intelligence infrastructure. Dengan tingkat kesulitan itu, tahap ketiga dimasukkan sebagai tahap jangka panjang.

kesiapan Infrastruktur

Dari sisi infrastruktur teknologi, Pemkot Bandung telah siap memasuki tahap ketiga program smart city. Tercatat ada 388 aplikasi yang kini mendukung kinerja Pemkot Bandung. Selain itu, publikasi informasi disampaikan Pemkot Bandung melalui beberapa kanal: website portal (http://portal.bandung. go.id), situs web PPID, media sosial (Twitter, Facebook, dan Instagram), Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), BCC, Mini Command Center di setiap perangkat daerah, serta situs web setiap perangkat daerah.

Ada pula berbagai aplikasi dan situs web sebagai wadah interaksi pemerintah dengan masyarakat, misalnya aplikasi Hayu dan Gampil di lingkup perizinan, aplikasi LAPOR, BCMS (Bandung Complaint Management System), Twitter dan Facebook setiap perangkat daerah, SIP (Sistem Informasi Penilaian Kewilayahan), WBS (Whistle Blower System) di lingkup pengaduan masyarakat, serta situs web PPID di lingkup permohonan informasi. Kebutuhan di back office atau di lingkungan pemerintahan Kota Bandung didukung oleh aplikasi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, monitoring, serta evaluasi yang terintegrasi, yaitu e-musrenbang, e-reses, e-planning budgeting, Simda Keuangan, e-project planning, Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan, e-procurement, e-contract, e-progress, e-performance, e-RK, e-LKPJ, TEPRA, dan Silakip.

Hemat Anggaran Satu Triliun

Setelah empat tahun berjalan, perlahan tapi pasti, program smart city Kota Bandung mulai memperlihatkan kontribusinya terhadap kemajuan Kota Bandung di berbagai bidang. Misalnya, akuntabilitas kinerja Pemkot Bandung meningkat dari “C” menjadi “A”. Penilaian akuntabilitas tersebut meliputi tingkat disiplin yang meningkat, indeks persepsi korupsi yang semakin kecil, dan kepuasan publik tinggi atau pelayanan masyarakat makin baik. Dari sisi anggaran, berkat penerapan e-budgeting, Kota Bandung dapat menghemat anggaran lebih dari satu triliun rupiah. Ukuran kemajuan lainnya yang dicapai oleh Kota Bandung, antara lain, ada 267 penghargaan dari dalam dan luar negeri, Indeks Pembangunan Manusia di Bandung tahun ini menembus angka 80 dan tingkat ekonomi terjaga di angka 7,8 persen.

Dan sebagai smart city, Kota Bandung menempati posisi ke-6 di dunia. Ada pula hasil survei yang dirilis Universitas Padjajaran pada bulan Mei lalu yang mengungkapkan bahwa ada 96 persen warga yang betah di Bandung. Sementara itu warga yang merasa bahagia dan sangat bahagia mencapai 87 persen. Hasil itu bisa dinilai sebagai respons positif terhadap berbagai layanan yang ada di Kota Bandung yang sedikit banyak telah didukung oleh sistem kota cerdas. Selanjutnya program smart city yang mencakup enam dimensi “kecerdasan” diharapkan akan mendorong roda perekonomian yang berfokus pada tiga hal, yakni jasa, teknologi, dan pariwisata. Enam dimensi tersebut adalah Smart Governance, Smart Economy, Smart Branding, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Tinggalkan komentar